WHITE ROSE Episode 7

 

WHITE ROSE Episode 7

Good morning beeeb, nggak kerasa ya udah hari Sabtu lagi, itu artinya WHITE ROSE Episode 7 udah harus up hihihi. 

Buat kamu yang baru pertama kali mampir ke Blog aku ini, cuss dibaca dulu Episode sebelumnya yaa, udah ada episode 1 sampe 6nya beeeb.

Buat kamu yang belum tau, ini Novelet bukan buatan aku yaa, tapi buatan bestieku hehe. cuss langsung aja yuk?


WHITE ROSE by Astrianti Nuraidan


Didalam kamar mandi sebuah TKP tepatnya di depan tempat pembuangan air besar yang modern, terdapat seorang polisi yang baru saja selesai mengeluarkan seluruh sarapan yang masuk kedalam perutnya pagi hari tadi. Sarapan yang harus dikeluarkan lewat mulut itu terjadi, karena polisi yang malang tersebut baru saja menyaksikan jasad korban pembunuhan.

“Dasar.. kalau melihat yang seperti ini saja kau sudah seperti ini, lebih baik cari pekerjaan lain saja!” ucap angkuh seorang teman sesama angota kepolisian di depan pintu masuk kamar mandi yang sama-sama menangani kasus pembunuhan pemilik tempat ini.

“Aku baik-baik saja” ucap lemas sang Polisi yang sepertinya telah selesai mengosongkan isi perutnya.

          Klik.. klik.. hanya terdengar suara kamera yang sedang menjalankan tugasnya untuk mengabadikan TKP diruangan tersebut.

"Tolong jangan lupa foto benda itu juga!” ucap seorang polisi malang yang kembali memasuki ruangan, setelah selesai mengeluarkan isi perutnya, meminta kepada seorang juru foto Polisi Forensik mengabadikan benda yang berada dibawah kaki korban.

“Kalian sudah selesai?” Ucap Jojo Komandan Kepolisian yang baru saja tiba untuk memantau cara kerja anak buahnya.

“Lapor Komandan, korban yang langsung mati karena tembakan langsung pada kepalanya, dilihat dari ruangannya yang rapi sepertinya tak ada perlawanan dari korban” ucap Puji kaget yang masih berada didepan pintu kamar mandi dan langsung melaporkan, sambil mempersilahkan atasannya melihat sendiri jasad korban yang dilaporkannya tadi.

“Ada lagi yang perlu kuketahui?” Ucap Komandan.

“Kami melihat pintu rumah dan jendela tertutup rapi, sepertinya sang pelaku kerabat atau kenalan korban” ucap lesu Polisi malang yang diketahui bernama Yuda.

“Rupanya kalian sudah menganalisa sejauh itu ya, kalian cukup bagus untuk dibilang anggota baru” komentar Komandan yang memuji Yuda dan Puji.

“Kalian sudah mengetahui siapa dan apa motif tersangka?” Komandan bertanya setelah ia selesai melihat jasad korban dari dekat, pertanyaan itu membuat Yuda dan Puji diam seperti benda lainnya di ruang tersebut.

“Ku beri waktu satu minggu penuh untuk mencari jawabannya!  mm… aku terlalu berharap, tadinya ku pikir kalian akan langsung mengetahuinya karena kalian lulusan terbaik tahun ini, tapi tak masalah kalian memang anggota baru untuk pekerjaan ini” ucap Komandan mengerti keadaan.

“Maafkan kami Komandan, Kami akan berusaha keras.” Ucap Puji dan Yuda serentak bersamaan.

“Semoga beruntung” Komandan menyemangati lalu meningalkan mereka untuk kembali pada menjalankan tugasnya yang lain.

Tak lama Setelah kepergian Komandan. Yuda, Puji, dan juga polisi Forensik yang bertugas diruang tersebut kini telah selesai menggumpulkan bukti-bukti yang cukup untuk mereka analisis kembali. Tak ingin berlama-lama diruangan itu, Puji yang diikuti Yuda langsung kembali kekantor kepolisian.

“Wow.. kau persis seperti korban yang tadi kalian bawa” ucap Farhan tertawa saat melihat Yuda yang baru saja tiba dikantor mereka.

“Kau benar, harusnya aku memandunya juga sepeti mayat itu.” Ucap Puji dari belakang Yuda dengan penuh emosi terlihat jelas diwajahnya.

“Biarku tebak, kau pasti baru saja muntah diTKP tadi” ucap Farhan.

“Kau benar, dan tau kah kau pertama kali aku muntah tepat pada sepatunya” bisik Yuda pada Farhan.

“Kau cari mati, pantas saja ia seperti itu. Aku akan menghindarinya selama seminggu penuh kalau aku jadi kau” nasihat Farhan tak kalah berbisik pada Yuda.

“Kalau saja aku bisa” balas berbisik Yuda.

“Sebaiknya kau isi dulu perutmu untuk memulihkan tenaga dan jangan lupa bungkus untuk Puji sebagai permintaan maafmu” Farhan memberikan sebuah ide yang cukup baik.

“Terimakasih, kau sangat pengertian padaku” ucap Yuda.

“Satu bungkus untukku, kau tau aku lupa sarapan dari tadi pagi” Farhan mengatakannya dengan senyum yang menjengkelkan.

“Harusnya aku tau” Yuda menghela nafas sebelum mengucapkannya, Yuda lupa Farhan selalu punya maksud tersembunyi untuk sebuah nasihatnya.

“kau yang terbaik” ucap Farhan mengancungkan kedua jempol tangannya.

Yuda yang langsung pergi menuju sebuah Rumah Makan yang cukup besar dekat dengan tempatnya bekerja. Yuda pun langsung saja memilih menu yang cukup banyak untuk mengisi perut yang telah dikuras habis tadi pagi. Dan tak lupa memesan untuk Puji dan juga Farhan sang pemberi ide.

Yuda memilih makan di Rumah Makan ini karena biasanya tempat ini akan ramai pada sore atau malam hari bukan pada waktu makan siang seperti saat ini. Yuda ingin merenungkan masalahnya sendiri tanpa banyak orang yang berisik disekitarnya. Dan untung saja benar-benar sedang kosong, hanya ada seorang wanita duduk menghadap keluar dekat ruang kantor Rumah Makan ini, Yuda pun memutuskan memilih duduk di dekat pintu keluar masuk.

Yuda menyadari apa yang dikatakan oleh Puji memang benar. Sebagai seorang Polisi ia diharuskan melihat hal-hal seperti tadi pagi, itu hal yang wajar untuk  seorang polisi dalam menjalankan tugasnya. Seharusnya Yuda tak perlu bereaksi berlebihan seperti itu.

Tapi bayangan sepuluh tahun yang lalu kini muncul dikepala Yuda seperti sebuah mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Bayangankan saja saat Yuda berusia Empat belas tahun Yuda harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, darah yang menetes pada kepala ayahnya atau yang mengalir di tubuh Bundanya.

Kalo saja bukan karena kakek dan nenek yang dengan tekun merawat Yuda. Pasti sekarang Yuda masih terbaring dirumah sakit, atau rumah sakit jiwa atau bahkan Yuda mengikuti Bundanya. Membanyangkannya membuat Yuda pusing kembali.

“Maaf,, benarkah pesanan yang ini yang dimakan disini?” tiba-tiba pelayan datang membuyarkan lamunan Yuda.

“Ya benar” ucap Yuda.

“Terimakasih” ucap Yuda tulus pada pelayan tersebut yang telah selesai menaruh pesanan Yuda tepat didepan mejanya tempat duduknya.

Yuda benar-benar berterimakasih pada pelayan tersebut karena telah membuyarkan lamunannya, kalau berlama-lama dalam ingatan itu Yuda bisa kembali muntah atau mungkin pingsan disini meninggalkan tugas yang baru saja Yuda terima. Kini Yuda hanya fokus pada makanan didepannya dan melahapnya seperti seorang anak yang baru saja diberi makan setelah lelah pulang bermain seharian.

 

 

Sementara itu…

DiRumah Makan yang sama dengan Yuda, disana terdapat seorang wanita yang sedang menunggu seseorang yang akan membayarnya untuk pembelian bunga-bunga pesanan yang dibawanya tadi.

“Maaf menunggu lama. Ini Dua ratus lima puluh ribu untuk bunga angrek yang indah yang kau bawa tadi” ucap sang pembeli yang merupakan pemilik Rumah Makan ini.

“Tak masalah, hari ini tugasku hanya tingal menggirimkan bunga itu pada anda” ucap Wanita itu menerima pembayaran atas bunganya.

“Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih” ucap tulus Pemilik Rumah makan tersebut.

“Kalau begitu saya pamit pulang, jika anda ingin memesan silahkan hubungi kami kembali.”ucap Wanita itu langsung pergi setelah mendapatkan bayaran yang ditunggunya.

Akan tetapi ketika wanita itu hampir sampai pada pintu keluar, wanita itu berhenti karena melihat sosok pemuda yang telah beranjak menjadi pria dewasa yang sepuluh tahun ini selalu dihindarinya.

Wanita itu memikirkan jalan keluar lain selain pintu itu tapi Rumah makan ini hanya memiliki satu tempat masuk dan keluar. Ditengah kekalutannya Kini Wanita itu tak bisa pergi tanpa diketahui oleh sosok itu karena seseorang yang sedang menikmati makanannya dengan lahap yang diketahui bernama Yuda itu tiba-tiba mengangkat wajahnya mungkin Yuda bermaksud untuk meminta tambah untuk minumnya dilihat dari tangan kanan yang menyetuh gelas yang kosong.

“Kau…” ucap Yuda kaget menemukan wanita yang sepuluh tahun tak pernah ditemuinya kembali.



Segitu dulu buat White Rose Episode 7 ya beeeb, mohon maaf kalo masih ada tanda baca atau EYD yang masih belum sesuai, kritik dan sarannya sangat membantu looh buat temenku ini. 



You Might Also Like : 



Thank You for Reading and See You on My Next Post, XOXO πŸ

kembanggularoom by demia kamil



30 comments:

  1. Feel free kritik dan saran buat temenku yaaa :)

    ReplyDelete
  2. Aku dulu rajin bikin cerita berepisode banyak gini mbak demia, sekarang jarang bikin lagi malah sibuk nonton drakor. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihih drakor itu menggoda banget dan sayang untuk dilewatkan yaaa hihi

      Delete
  3. Keren sahabatnya, Mbak.
    Saya salut sama yang bisa bikin novelet atau cerpen berseri begini.

    Kalau boleh saran huruf besar-kecilnya lebih diperhatikan lagi. Seperti "rumah sakit", bukannya "Rumah Sakit", "forensik", bukannya "Forensik".

    Terima kasih sudah menuliskan kisah yang penuh teka-teki. Penasaran, siapa ya perempuan yang dilihat Yuda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waa terima kasih masukannya mbak, nanti aku sampaikan ke temenku hihihi

      Delete
  4. Hmmm ... ada hubungan apa ya Yuda dengan wanita itu? Hubungan ibu dan anak?

    ReplyDelete
  5. Baca ini jadi ingat ceritaku yang mandek di tengah jalan. Semangat buat lanjutin! Btw, aku udah lama gak baca cerita model misteri kaya gini

    ReplyDelete
  6. Terakhir aku baca masih episode 3, sekarang sdh episode 7, jadi sebelum baca episode ini aku cari dan baca dulu episode 4-6 nya. Jadi si Yuda sekarang sdh jd polisi. Ceritanya makin seru nih, menanti episode lanjutannya :)

    ReplyDelete
  7. wah ngepost fiksi juga ya mbak...belum sempet nih baca bab2 sebelumnya. ini novel thriller?

    ReplyDelete
  8. waa baguss menarik. ku mau baca jg cerita2 sebelumnyaa.

    ReplyDelete
  9. Wahhh, seru nih sahabatnyaaa
    Ngefiksi itu (menurutku) syusyaahhh euyy
    Kudu punya imajinasi yg uhuuyy, plotnya ga boleh bolong juga.
    KEREN!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya niiih temenku lagi semangat bikiin ehhehe

      Delete
  10. Wah jadi penasaran nih.. ada hubungan apa di antara keduanya ya??

    ReplyDelete
  11. wah saya baru baca udah episode 7 aja, harus baca dulu yang sebelumnya nih penasaran hehehe

    ReplyDelete
  12. Wajib baca episode pertama ini, kalau tidak, gak ngerti jalan ceritanya. Episode 1 diupload di sini jugakah?

    ReplyDelete
  13. Wah udah episode 7 aja, udah ketinggalan jauh nih, awal2 baca masih di episode 1

    ReplyDelete
  14. Wah temannya Teh Demia keren banget rajin bikin novelet berseri begini.. Bagus semangat belajar menulisnya nih..hehe..

    ReplyDelete
  15. Bagus kak ide ceritanya. hanya saja kalau boleh memberi saran, mungkin sebaiknya membaca novel penulis yang sudah terkenal, misalnya Tere Liye atau Andrea Hirata, atau novelis lainnya yang sesuai dengan tema novel yang ingin ditulis, agar bisa belajar bagaimana menuliskan sebuah diksi yang sesuai dengan sebuah cerita yang ingin disajikan. Itu saja sih kak.

    Semangat ya kakak

    ReplyDelete
  16. Makin seru aja ya ceritanya. Kenapa nggak langsung aja di taruh ke platform menulis kak. Mayan itu hehehhe sukses untuk next episode. Kepo.

    ReplyDelete
  17. Ya ampun..cerita berseri ternyata. Mesti bersabar nih tunggu cerita lengkapnya. Heuheu
    ...penasaran euy penasaran~

    ReplyDelete
  18. lanjut lagiii bacanya...seru Demiaaa. sampai seri ke berapa ya kira2 nih

    ReplyDelete
  19. Deg-degaan...
    Siapa ini wanita yang ditemui Yudhaa...?
    Apakah masa lalu yang menyakitkan?

    ReplyDelete
  20. Wuah harus mengikuti tiap episodenya nih, ceritanya keren dan menarik sekali ini kakak. Semoga diwaktu senggang bisa baca cerita yang lain deh, keren

    ReplyDelete
  21. Keren kk, aku sampai sekarang belum kelar2 nulis cerita fiksi. Semoga berkelanjutan dan jadi novel yg bisa dicetak ya kk.

    ReplyDelete
  22. Terus semangat mbak belajar menulis cerita fiksi karena semakin sering latihan tulisannya akan semakin bagus, terutama penjiwaan tokoh dan setting cerita

    ReplyDelete

Comment with active link will be automatically removed to make this blog spam-free

Thank You for Comment πŸ’›