WHITE ROSE Episode 9

 

WHITE ROSE Episode 9

WHITE ROSE Episode 9

Good morning beeeb, hari Sabtu nih beb, itu artinya WHITE ROSE Episode 9 udah siap tayaaaang hihihi. 

Buat kamu yang baru pertama kali mampir ke Blog aku ini, cuss dibaca dulu Episode sebelumnya yaa, udah ada episode 1 sampe 8nya beeeb.

Buat kamu yang belum tau, ini Novelet bukan buatan aku yaa, tapi buatan bestieku hehe. cuss langsung aja yuk?



WHITE ROSE by Astrianti Nuraidan


Yuda kini langsung menuju ruangan kerja yang dipakai oleh Puji, Farhan dan juga Yuda setelah tadi diberitahu keberadan Puji oleh Farhan. Dan benar saja Puji ada disana sedang memeriksa laporan-laporan ataupun foto-foto yang tadi kami ambil di TKP.

 “Bisakah aku bicara sebentar” ucap Yuda sambil berjalan mendekati Puji.

“Darimana saja baru datang? Bukankah Komandan hanya memberi waktu seminggu.” Ucap Puji masih dengan pandangan yang fokus pada laporan ditangannya.

“Aku makan siang dulu, dan ini aku membawa makan siang untukmu.” Jawab Yuda sambil menyerahkan bungkusan makanan yang berada ditangannya kepada Puji.

“Kau masih sempat untuk makan?.” ucap Puji tak percaya dengan perkataan Yuda yang menurutnya membuang-buang waktu untuk mereka dalam memecahkan kasus.

“Aku harus mengisi tenagaku dulu, karna tadi pagi.” ucap Yuda sedikit memelankan perkataannya.

“Ah… benar, tadi pagi ada yang membuat sepatuku menjadi tak layak pakai.” Ucap Puji walaupun sepatunya memang basah sehingga ia harus memakai sandal tapi sepatu itu masih layak untuk dipakai kembali setelah dibersihkan.

“Aku akan mencucinya untukmu atau aku akan menganti dengan yang baru kalau kau mau.” Yuda menawarkan untuk bertanggung jawab penuh atas perbuatannya karena Yuda merasa bersalah.

“Dasar anak orang kaya, segala sesuatu selalu akan diselesaikan dengan uang.” ucap puji menjadi lebih emosi tak terima dengan apa yang ditawarkan oleh Yuda.

“Aku hanya ingin bertanggung jawab, kau ingin aku bagaimana untuk menebus kesalahanku padamu.” Ucap Yuda pelan penuh penyesalan.

“Cari pekerjaan lain sana.” Ucap Puji langsung tanpa mengerti perasaan Yuda.

“Tidak bisa untuk yang satu itu.” Ucap Yuda yakin tak ingin pergi dari pekerjaannya yang selama ini Yuda impikan.

“Tak lelahkah kau setiap melihat darah kau berulah seperti tadi?.” Tanya Puji lelah melihat tingkah Yuda setiap menghadapi kasus pasti hal tersebut akan terulang kembali.

 Sebenarnya Puji dan Yuda sudah saling mengenal dari sejak memasuki universitas kepolisian dan satu angkatan dalam menempuh pendidikan bahkan bisa dikatakan mereka saingan dalam hal peringkat pendidikan mereka. Hanya saja menurut Puji, Yuda yang dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan membuat Yuda hanya fokus pada pendidikan berbeda dengan Puji yang terlahir dari keluarga yang serba kekurangan.

Terlahir dari keluarga yang kekurangan membuat Puji diharuskan bekerja keras untuk membayar biaya pendidikan dan juga biaya kehidupannya sehari-hari, hal itu berakibat Puji tak bisa benar-benar fokus hanya pada pendidikannya. Pagi hari adalah waktu untuk Puji belajar, sedangkan Malam hari Puji akan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Rutinitas seperti itu setiap hari berdampat membuat kelelahan otomatis membuat prestasi Puji turun drastis. Dan itu pula berakibatkan beasiswa yang diterima Puji berkurang menjadi lima puluh persen dari biaya yang harus dibayar untuk melanjutkan pendidikannya. Atas dasar itulah Puji sedikit sensitif terhadap Yuda yang begitu beruntung dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan, sangat berbeda jauh dengannya yang berusaha mati-matian dalam hal mengejar cita-citanya.

“Aku tak ingin pekerjaan lain, aku akan berusaha keras mengatasinya, Kau tak perlu khawatir akan itu.” Ucap Yuda penuh keyakinan meskipun mengatakan dengan kepala melihat kebawah tak berani melihat wajah Puji walaupun sebenarnya Puji sedang melamunkan masa lalu mereka.

“Sebenarnya aku tak peduli, aku hanya tak ingin kejadian seperti tadi pagi terulang lagi” ucap Puji tak percaya dengan jawaban Yuda kini Puji hanya bisa memberi tatapan mata yang tajam membuat Yuda semakin tak berani untuk menatapnya.

“Jangan mengganguku kalau kau tak ingin ku adukan masalahmu pada Komandan, sekarang lebih baik kau kembali kerjakan tugasmu” tambah Puji yang tak ingin membuang-buang waktu untuk menyelesaikan kasus yang sedang mereka kerjakan.

Yuda pun langsung melakukan apa yang dikatakan Puji, karna tak ingin melihat Puji lebih murka lebih dari ini. Berakhir dengan sehari itu mereka habiskan mengerjakan kasus tersebut bahkan membuat mereka bergadang hampir sepanjang malam karena tak menemukan titik terang sedikitpun.

          Hingga tak terasa satu minggu terlewati dengan cepat, Yuda masih terkurung bersama Puji bahkan Farhan sampai ikut bergabung dalam memecahkan kasus tersebut. Kasus yang sedang mereka pecahkan tak semudah mencari jawaban satu ditambah satu, pembunuhan itu terjadi begitu saja seolah-olah mayat itu sudah berada disana dalam waktu yang sangat lama hingga bukti-bukti yang ada pun tak menunjukan kepada siapa tersangka pembunuhan ataupun motif pembunuhan itu.

          Penampilan Yuda, Farhan dan Puji kini lebih mirip seperti gelandangan dari pada disebut dengan anggota kepolisian dikarenakan rambut mereka kini lebih menyerupai rumput liar yang berada dipekarangan, lingkar mata yang menghitam menyerupai seekor panda atau dari bentuk pakaian mereka yang tak pernah mereka ganti selama seminggu ini karena mereka tak ingin pulang sebelum berhasil memecahkan kasus yang mereka tangani.

          “Ah.. aku tak tahu lagi” ucap Farhan tiba-tiba berteriak sambil mengacak-acak rambutnya yang sebelumnya pun sudah tak terbentuk rupanya.

          “Kecilkan suaramu, disini bukan hanya ada kau saja” ucap Puji tambah kesal.

          “Aku ingin pulang, kasurku mungkin dipenuhi jamur karena merindukanku” ucap Farhan memulai dramanya.

          “Ya sudah pulang saja sana, siapa yang menyuruhmu berada disini.” Ucap Puji yang sama lelahnya dan mendengar rengekan Farhan membuatnya kepalanya semakin ingin meledak rasanya.

          “Kalau aku pulang sendiri tanpa kalian berarti aku tak setia kawan.” Ucap Farhan penuh kepolosan yang dimilikinya tak terpengaruh dengan wajah Puji yang semakin ingin memukulnya.

          “Kau memang temanku.” Ucap Yuda terharu dengan ucapan Farhan berbeda dengan Puji yang muak dengan kata-kata Farhan yang sering didengarnya.

          “Kalian masih berada disini?” tiba-tiba terdengar suara Komandan dari arah pintu tempat Yuda, Puji dn Farhan sedang bekerja.

          “Selamat sore Komandan” ucap Yuda, Puji dan Farhan serempak sambil dengan tergesa-gesa merapihkan diri maupun tempat yang mereka tempati seminggu penuh ini.

          “Dilihat dari penampilan dan bentuk ruangan ini, bisa disimpulkan kalian belum pulang seminggu ini” ucap Komandan dengan wibawanya.

          “Benar Komandan”. Ucap Farhan sementara Yuda dan Puji hanya terdiam.

          “Dan menurut analisiku kalian belum menemukan pertanyaanku minggu lalu.” ucap Komandan berjalan menghampiri tempat untuknya duduk diruangan tersebut.

          “Maafkan kami Komandan.” Ucap Yuda dan Puji berbarengan dengan kepala tertunduk karena merasa bersalah karena tak berhasil memecahkan kasus sesuai dengan keinginan Komandan minggu yang lalu.

          “Tebakan ku selalu benar, dan kini biarku dengar sampai dimana penemuaan kalian dalam kasus ini”. Ucap Komandan bijak tak memarahi bawahannya karena tak berhasil dengan kemauannya.

          “Korban sudah tewas akibat tembakan tepat pada kepalanya, diperkirakan korban sudah tewas sekitar empat hari. Korban ditemukan oleh pelapor yang merupakan sahabat korban.” Ucap Puji langsung menjelaskan informasi yang telah didapatnya dengan menyerahkan foto-foto dan juga hasil autopsi yang memperkuat pernyataanya.

          “Pelapor memeriksa tempat tersebut setelah istri korban menanyakan keberadaan korban kepadanya karena korban belum pulang selama empat hari. Istri korban sangat khawatir karena korban merupakan suami yang mencintai keluarganya sehingga ia selalu pulang tepat waktu bagaimanapun sibuknya korban dalam pekerjaannya.” Ucap Yuda menambahkan setelah Komandan selesai memeriksa bukti yang diberikan oleh Puji.

          “Sidik jari yang ditemukan dalam tempat kejadianlah yang menjadi pertanyaan yang membuatku sangat bingung komandan.” Ucap Puji penuh keraguan atas apa yang telah ditemukannya.

          “Coba kau jelaskan agar kami mengerti dimana letak yang menurutmu membingungkan.” Ucap Komandan dengan penuh wibawa yang di milikinya.

          “Aku telah mencocokannya sidik jari yang ditemukan ditempat pembunuhan itu terjadi dengan sidik jari orang-orang kenalan korban yang di curigai maupun pembunuh-pembunuh terdahulu.” Ucap Puji mencoba menjelaskan.

          “Teruskan” ucap Komandan yang tertarik dengan penjelasan Puji.

          “Menurutku hasilnya tak masuk akal komandan, sidik jari itu menunjukan pada seseorang yang sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu.” Jelas Puji benar-benar ragu dengan ucapannya.

          “Aku tahu satu orang yang mungkin.” Ucap Farhan reflek berbicara tanpa memikirkan akibatnya.

Farhan langsung melirik Yuda yang kini menengang ditempatnya berdiri dengan rahang yang mengeras dan juga kedua tangannya mengepal penuh dengan amarah yang terpendam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Puji.

          “Benarkah, bisakah kami ketahui kemungkinan orang itu berkaitan dalam kasus ini?” ucap Komandan dan fokus diruangan itu langsung tertuju kepada Farhan kecuali Yuda yang sepertinya dipenuhi oleh amarah, hal itu membuat Farhan tak berani mengucapkan nama yang diketahuinya.

          “Didi pratiya.” Ucap Yuda lantang dengan nada yang tak seperti Yuda yang mereka kenal.

          “Maksud kalian berdua, adalah perampok sekaligus pembunuh kejam sebuah Villa dua puluh tahun yang lalu?” ucap Puji tak percaya atas informasi yang baru saja didengarnya.

          “Dan juga tersangka utama pembunuhan Bunda Yuda dan penyebab komanya ayah Yuda sepuluh tahun yang lalu.” Ucap Farhan pelan semakin berasa bersalah pada Yuda.

          Pernyataan Farhan akan fakta baru itu, membuat mereka yang berada di ruangan itu pun terdiam. Baik Farhan yang mengungkapkan fakta, Yuda yang menjadi bahan pembicaraan, Puji yang tak tahu menahu akan masa lalu Yuda, maupun sang Komandan yang kini hanya menatap Yuda dengan pandangan penuh keprihatinan.

          “Kalo dua puluh tahun yang lalu saja tak pernah tertangkap, bagaimana sekarang?” ucap Farhan bertanya untuk melanjutkan percakapan dalam kasus yang sedang mereka tangani.

“Kalian jangan khawatir, aku akan meminta bantuan pusat untuk membantu pencarian Didi pratiya jika memang benar ia adalah tersangka utama” ucap komandan tegas dan hal memberikan sedikit harapan untuk menemukan Didi.

“Terimakasih komandan” ucap mereka bertiga serempak.

“Sebaiknya kalian beristirahatlah dahulu hari ini dan besok aku memberikan kalian waktu agar kalian lebih maksimal dalam pencarian itu, aku yakin kalian belum tidur nyenyak selama seminggu ini’ ucap Komandan penuh pengertian pada bawahannya.

“Benar komandan, Terimakasih atas pengertiannya” ucap Farhan yang langsung kegirangan diberikan waktu untuk istiharat dan hal itu juga di setujui dalam hati Yuda dan Puji.

          Atas izin dari Komandan Yuda, Puji, dan Farhan bisa pulang karena berhasil menemukan kemungkinan tersangka utama pembunuhan yang sedang mereka tangani setelah seminggu penuh terkurung dikantor. Dan Yuda pun memutuskan pulang terlebih dahulu untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kacau.

Sepuluh tahun yang lalu semenjak Yuda diizinkan pulang dari rumah sakit, Nenek dan kakeknya langsung membawa Yuda kerumah mereka. Dan Yuda pun langsung menyetujui ide tersebut karena Yuda pun tak ingin sendirian di rumah miliknya yang luas dan juga tak ingin teringat dengan malam kejadian itu.

          Ketika kondisi Yuda mulai stabil dan atas persetujuan dokter yang menanggani kejiwaan Yuda, akhirnya Nenek dan Kakek memberikan keterangan lengkap pada Yuda siapa orang yang telah membunuh Bundanya dan membuat sang ayah mengalami koma yang entah sampai kapan akan tersadar kembali. Meskipun merekapun tak mengetahui apa alasan dari kejadian mengerikan itu, tapi yang bisa dipastikan adalah nama pelaku yang kini Yuda ketahui bernama Didi Prastiyo.

          Yuda diberitahu oleh Kakek dan Neneknya nama tersebut dikarenakan bukti yang ditinnggalkan oleh sang ayah sebelum terjatuh dari tangga yang sempat merekam pembicaraan mereka walaupun anggota kepolisian yang bekerja saat itu pun tak mengetahui arti yang berarti selain identitas dari ucapan percakapan mereka.

          Didi prastiyo berhasil kabur setelah memalsukan kematiannya selama sepuluh tahun, hal itu membuat seluruh warga dikawasan rumah Yuda saat itu menjadi waswas dan nama baik kepolisian yang bertugas saat itu menjadi tercoreng menghasilkan pengejaran besar-besaran dikerahkan, akan tetapi seperti sepuluh tahun yang silam Didi kembali menghilang setelah berhasil membunuh Bunda dan mencelakai Ayah Yuda.

          Itulah yang membuat Yuda memantapkan diri menjadi anggota kepolisian, dengan tujuan untuk menangkap Didi Prastiyo dengan kedua tanggannya sendiri. Yuda sangat ingin mengetahui atas dasar apa Didi sangat tega merusak kebahagian Yuda yang masih muda saat itu.

Sepuluh tahun pun tak terasa telah Yuda lewati, Yuda pun telah berhasil mewujudkan keingginannya menjadi anggota kepolisian. Tapi meskipun telah berhasil menjadi anggota polisi Yuda tetap tak bisa menghilangkan trauma yang mengingat kembali pada malam kematian Bunda dan komanya sang Ayah.

Yuda pun akhirnya memutuskan menyewa sebuah kamar kost untuknya dengan alasan ingin lebih dekat dengan kantor tempatnya bekerja, alasan itu Yuda buat agar Kakek dan Neneknya tak selalu khawatir melihat Yuda pulang dalam keadaan yang tak baik-baik saja dikarenakan Yuda menjadi lemas akibat trauma melihat mayat atau korban-korban dari berbagai jenis kecelakaan ataupun korban kejahatan lainnya.

 

 

 

Kembali kemasa kini

 

Setelah Yuda cukup menyegarkan kembali tubuhnya yang tak terurus selama seminggu penuh, akhirnya Yuda melakukan kegiatan yang terlewati seperti tidur yang cukup ditempat tidur yang layak, mandi dengan peralatan lengkap seperti sabun, shampoo dan juga sikat gigi, ataupun makan yang bergiji walaupun itu masakan dari Rumah makan langganannya.

Setelah Yuda kembali segar Kini yang Yuda lakukan hanyalah terdiam disofa kamarnya yang sangatlah nyaman sambil menatap kosong saluran tv yang entah sedang menayangkan saluran apa.

“Kau kembali” ucap Yuda pada dirinya sendiri.

“Kau tak berubah sedikit pun, kau datang hanya untuk membunuh” Yuda kembali dipenuhi emosi memikirkan kelakuan bejat seorang Didi prastiya.

“Kali ini kau tak akan bisa lari lagi, karena kini aku yang akan menangkapmu walaupun nyawaku taruhannya”. Janji Yuda pada dirinya sendiri sambil menatap foto yang terdapat wajah Yuda, Bunda dan juga sang Ayah yang sedang tersenyum yang terletak di sebelah tv yang menyala tanpa ada niat untuk ditonto Yuda, foto kenangan itu diambil ketika Yuda selesai dengan upacara kelulusan sekolah dasar.

“Tring.. Tring..” suara telepon genggam di meja tak jauh dari tempat duduk Yuda berada.

“Halo Nek” ucap Yuda mematikan saluran tv dan langsung menjawab telepon setelah dilihatnya nama Neneknya tertera dalam panggilan di telepon genggam miliknya.

“Yuda kapan Kau akan mengunjungi Nenek?” ucap Nenek langsung pada intinya.

“Maaf nek Yuda sedikit sibuk sekarang ini” ucap Yuda yang menyesal setelah mendengar ucapan sang Nenek.

“Harusnya kau tak usah tumbuh menjadi dewasa seperti saat ini” ucap Nenek yang semakin sendu terdengar dipendengaran telepon Yuda.

“Maksud Nenek Yuda harus selalu memakai popok?” ucap Yuda bercanda karna  ingin mendengar tawa Nenek meskipun hanya dari suara telepon.

“Memakai popok tak membuatmu menjadi anak kecil lagi, Kakek pun sebentar lagi akan memakainya.” Ucap Nenek yang tak tertawa atas lelucon Yuda meskipun kini tak terdengar lagi suara sendunya.

“Benarkah Kakek memerlukannya? Apakah Kakek sakit keras sehingga membuatnya tak bisa menahan diri sampai tiba didalam toilet?.” Yuda menjadi panik setelah mendengar ucapan Nenek.

“Kakek baik-baik saja, makanya sering-seringlah menjenguk kami disini.” Ucap nenek berusaha membujuk Yuda.

“Syukurlah, hari ini Komandan memberi kami waktu libur, Yuda akan pulang kerumah Nek” ucap Yuda menyetujui karena ia pun merindukan Nenek dan Kakek.

“Benarkah, Nenek akan masak Ayam kesukaanmu sekarang juga” ucap Nenek langsung bersemangat mendengar jawaban dari cucunya.

“Jangan lupa sambalnya” ucap Yuda menambahkan sebelum Nenek menutup teleponnya.

“Tentu Nenek tak lupa dengan kesukaan cucuku, Nenek tunggu secepatnya hati-hati dijalan Nenek tutup ya.” Ucap Nenek langsung menutup telepon sepertinya beliau langsung bergegas menyiapkan apa yang tadi dijanjikannya kepada Yuda.

Setelah pangilan dari Nenek berakhir, Yuda pun langsung bergegas pergi kerumah sang Nenek yang cukup jauh dari tempat kostan yang ditempatinya kini. Ketika hendak membawa dompet Yuda ingat akan adanya kartu nama toko bunga tempat Mawar berada didalam dompet tersebut.

“Nenek pasti senang mendapatkan bunga” ucap Yuda tersenyum dengan idenya sekaligus dengan alasan bagus untuk menemui Mawar tanpa menaruh kecurigaan atas kunjungannya.

Setelah menempuh pejalanan yang singkat dengan mobil pribadinya, kini Yuda sudah berada didepan toko bunga yang Yuda ketahui dari kartu nama pemberian Nyonya dari pemilik rumah makan sebagai tempat Mawar bekerja. Yuda pun langsung merapihkan penampilannya sebelum memasuki toko tersebut.

Setelah menurut Yuda rapih ia langsung memasuki toko tersebut, ketika Yuda membuka pintu toko bunga ingatkan Yuda langsung kembali pada pertama kali Yuda berada ditoko bunga pertamanya untuk membeli sebuah rangkaian bunga mawar untuk seorang wanita yang telah diambil oleh sahabatnya sendiri.

“Menyedihkan sekali” ucap Yuda pelan mengingat kilasan kejadian terakhir antara Yuda, Sovie dan Dirga.

ketika Yuda kembali melangkah masuk untuk menghampiri penjaga yang berada disana Harum dari berbagai jenis tanaman bunga langsung tercium dipenciumannya yang tajam.

“Bisakah aku memesan rangkaian bunga” ucap Yuda ketika sudah dekat yang sepertinya karyawan ditempat tersebut.

“Maaf untuk rangkaian bunga anda harus menunggu terlebih dahulu, karena Florist kami sedang keluar sebentar.” Ucap sang pelayan tersebut penuh penyesalan.

“Apakah masih lama?” ucap Yuda yang sedikit kecewa pelayan tersebut bukanlah Mawar seperti yang telah diharapkannya

“Mungkinkah sang pemilik rumah makan salah memberikan kartu nama?.” Ucap  Yuda membatin.

“Sepertinya tak lama lagi, ia sudah keluar hampir satu jam yang lalu, kalo anda berkenan menunggu mungkin anda bisa melihat-lihat dulu koleksi tanaman toko kami yang mungkin menarik minat anda.” Ucap ramah Pelayan toko tersebut.

“Baiklah aku akan menunggu.” Ucap Yuda yang berharap mungkin saja Florist yang dimaksud adalah Mawar yang diharapkannya dan juga tak ada salahnya bekeliling melihat-lihat koleksi tanaman di toko bunga ini sepertinya itu bisa mengurangi stress yang sedang dialaminya.

Yuda jadi teringat kembali kenangan terakhir bersama Bunda tercinta ketika sedang mengelilingi berbagai macam bunga didepannya.

“Maaf membuatmu menjaga toko ini sendirian terlalu lama.” Terdengar suara wanita yang baru saja memasuki toko bunga ini.

“Aku baik-baik saja Mawar, hanya saja di ujung sana ada seseorang yang ingin dibuatkan rangkaian bunga” ucap Pelayan itu ramah.

“Terimakasih banyak, aku tak mungkin selama ini kalo saja tak bertemu dengan sibrengsek itu yang lagi-lagi memerlukan bantuanku” ucap Mawar kepada sang pelayan.

“Kau tak boleh bicara seperti itu. Walau bagaimana pun ia tetap ayahmu tak ada yang namanya mantan ayah.” Ucap pelayan tersebut mengingatkan.

 “Sudahku bilang dia bukan ayahku, membesarkanku selama sepuluh tahun tak membuatnya menjadi seorang ayah Rena” ucap Mawar marah dengan tatapan yang sungguh-sungguh membuat Rena sang pelayan yang sedang berbicara dengan Mawar, bergidik ngeri melihat temannya yang seolah-olah akan membunuhnya melupakan persahatan mereka selama sepuluh tahun terakhir.

“Maaf apakah bisa aku memesan?” ucap Yuda mencoba mengalihkan pembicaraan yang tak sengaja didengarnya ketika menghampiri Mawar dan Rena.

“Silahkan, anda ingin memesan rangkaian bunga seperti apa?” ucap Mawar bertanya dengan posisi membelakangi Yuda berusaha meredakan amarah yang masih menguasai dirinya.

“Aku ingin sebuah rangkaian bunga Mawar, tapi bisakah kau memberiku kali ini yang berwarna merah muda?” ucap Yuda yang kali ini telah mengetahui arti lain dari bunga mawar putih.

“Tentu saja.” Ucap Mawar langsung menyetujui sambil berbalik menghadap Yuda, yang langsung membuatnya hampir saja berteriak karena terkejut.

“Hai, kurasa takdir benar-benar ingin menyatukan kita.” Ucap Yuda yang geli atas reaksi dari wajah Mawar ketika melihatnya berdiri didepannya dan hal itu semakin membuat Yuda ingin mengodanya.

“Bagaimana kau tahu aku berada disini?” ucap Mawar tak percaya dengan penglihatannya, susah payah ia bersembunyi selama sepuluh tahun ini agar tak sampai bertemu dengan pria dihadapannya kini.

“Aku memerlukan hadiah yang cocok untuk seseorang yang istimewa, dan aku berpikir rangkaian bunga cocok untuknya.” Ucap Yuda yang membenarkan alasan spontan yang keluar dari mulutnya meskipun sebenarnya ia ingin bertemu lagi dengan Mawar lah yang menjadi alasan Yuda berada ditempat ini.

“Tunggu sebentar” ucap Mawar yang tak ingin terlalu kentara seperti menjauhi Yuda dan langsung membuat karangan bunga yang diinginkan oleh Yuda.

“Kali ini karangan bunga itu untuk Nenekku” ucap Yuda langsung bersuara ketika Mawar akan memulai pekerjaannya, Yuda tak ingin Mawar salah sangka pada sipenerima dari bunga pesanannya.

“Apakah aku bertanya?” ucap Mawar kembali pada nada bicara ketus yang biasa terderngar ditelinga Yuda.

“Aku hanya ingin kau tau.” Ucap Yuda membela diri.

“Ku harap Nenekmu akan senang menerimanya.” Ucap Mawar terdengar lebih tulus karena mendengar nada Yuda yang terdengar sedih.

“Kau tak bertanya apapun tentang Bunda?” ucap Yuda yang tiba-tiba bertanya ketika Mawar kembali melanjutkan membuat rangkaian bunga, mendengar itu Mawar yang sedang menggambil bunga mawar langsung terdiam.

“Aku tahu apa yang terjadi dengan Bunda” ucap Mawar setelah sepuluh menit lamanya ia terdiam.

“Kau sudah mendengarnya, ku kira kau tak mengetahuinya disaat aku langsung pindah kerumah Nenekku.”ucap Yuda yang semakin muram akan apa yang telah diucapkannya, entah atas dasar apa Yuda ingin menayakan Bunda pada Mawar.

“Maafkan aku.” Ucap Mawar tiba-tiba.

“Aku baik-baik saja sekarang, sudahlah kau tak perlu minta maaf segala.” Ucap Yuda kaget dengan ucapan Mawar dan juga wajah seperti orang penuh penyesalan.

“Tahukah kau, aku pernah membantu Bunda berkebun menanam berbagai bunga dipekarangan rumah kami dulu.” Ucap Yuda sebenarnya Yuda ingin membicarakan Bunda pada Mawar karena mungkin saja kenangan Mawar tentang Bundanya lebih banyak, mengingat dulu Mawar suka membantu Bundanya dalam hal berkebun.

“Aku tak pernah melihatmu dulu.” Ucap Mawar yang tak mempercayai ucapan Yuda kini dengan nada yang lumayan bersahabat menurut Yuda.

“Waktu setelah aku melihatmu mengatarkan bunga, seharian itu kami habiskan untuk berkebun.” Ucap Yuda senang akan ingatan itu.

“Aku ingat hari itu.” Ucap Mawar membenarkan ingatan Yuda.

“Bunda pasti marah karena aku telah mengabaikan taman bunga berharganya.” Ucap Yuda yang kini menyesal karena menelantarkan taman yang sudah Bunda rawat dengan susah payah karena keegoisannya yang trauma akan tempat itu.

“Aku akan membantumu, merawat kembali kebun berharga Bunda.” Ucap Mawar menawarkan dengan penuh keyakinan, walau bagaimana pun Mawar sangat menghargai Bunda Yuda yang berusaha keras membuat taman yang indah.

          “Terimakasih banyak, aku akan menelponmu ketika aku cuti kerja” ucap Yuda penuh semangat mendengar tawaran yang tak diduga sebelumnya.

          “Ya.” Ucap Mawar singkat yang kini sepertinya menyesali ucapannya.

          Akan tetapi Yuda tak terlalu memerhatikan raut wajah Mawar karena ia teramat senang mendapat tawaran itu, Yuda berpikir ini merupakan kesempatan untuk lebih sering bertemu dengan Mawar.


Segitu dulu buat White Rose Episode 9 ya beeeb, mohon maaf kalo masih ada tanda baca atau EYD yang masih belum sesuai, kritik dan sarannya sangat membantu looh buat temenku ini. 



You Might Also Like : 




Thank You for Reading and See You on My Next Post, XOXO πŸ

kembanggularoom by demia kamil


11 comments:

  1. Ini baca episode 9 bikin aku penasaran dengan episode sebelumnya, aku mau baca juga ah karena emang belakangan lagi senang baca cerita digital gini.

    ReplyDelete
  2. Semangat terus yang nulis ini, mbak baik banget mau publish punya bestienya juga

    ReplyDelete
  3. Sukses terus nulis noveletnya buat temennya, semoga nanti bisa dibukukan πŸ™

    ReplyDelete
  4. Pikiran puji sama seperti aku dulu. Aku juga melihat teman-teman yang cukup dan keluarganya mampu memberikan apa saja bikin aku kadang tak mensyukuri nikmat dan hidup

    ReplyDelete
  5. seru novelnyaaa beb jadi penasaran itu cerita-cerita episode sebelumnya deh, duh baru tahu aq kalau ada cerbung disini

    ReplyDelete
  6. kasihan Yuda kehilangan orang tuanya,caranya kejam pula. pasti ada trauma tersendiri kan, huhu. jd sedih

    ReplyDelete
  7. Wah panjaaang. Btw krn aku blm baca episode sblmnya jd kyk ada yg miss, cuma emang msh bisa merasakan penyesalan tokohnya. Nnati aku back2 baca episode sblmnya ya biar lbh paham jalan ceritanya :D

    ReplyDelete
  8. Kangen sama White Rose.
    Semakin terbuka tabir-tabir misteri selama ini dan kebahagiaan semoga endingnya.

    ReplyDelete
  9. Seru banget nih kayaknya. Aduh aku ketinggalan. Kudu baca dari episode 1. Siap gali blog ini aaaah.

    ReplyDelete
  10. Thank you so much for sharing this one. I do enjoy the story and I hope you can bring more like this in your blog soon yaaa Demia

    ReplyDelete

Comment with active link will be automatically removed to make this blog spam-free

Thank You for Comment πŸ’›