WHITE ROSE Episode 3


Hai beeb, hai hai good morniing, udah hari Sabtu lagi nih, artinya aku bakalan update Cerpen buatan bestie aku. Oiya karena kemaren ada info dari Mbak Sri Widyastuti kalo cerita bersambung itu ternyata namanya Novelet, jadi WHITE ROSE selanjutnya bakalan aku sebut Novelit, terima kasih infonya ya Mbak hihihi.

Novelet ini judulnya WHITE ROSE, dan udah ada Episode 1 dan Episode 2 juga sebelum postingan ini beb, yang belum mampir boleh looh mampir dulu ke postingan sebelumnya hehehe. Buat kamu yang udah penasaran, yuk kita mulai Episode 3 -nya.











WHITE ROSE Episode 3 by Astrianti Nuraidan


Sepuluh tahun kemudian setelah kecelakaan...

Pada sabtu malam biasanya remaja sedang disibukan belajar, berkumpul bersama teman, sedang tertidur atau mungkin melewatkan waktu dengan seseorang yang special, berbeda dengan remaja pada umumnya ada seseorang disini yang sedang berlari tanpa lelah untuk menyelamatkan hidupnya.

 Remaja yang sedang berlari itu diketahui bernama Mawar, ia terus berlari sambil sesekali menoleh kearah belakang untuk memastikan bahwa orang-orang itu tak bisa mengejarnya. Akan tetapi ketika ia sampai pada pertigaan jalan raya tiba-tiba saja sebuah mobil spots merah melaju dengan kencang.

“Bruk” suara tubuh Melati tertabrak mobil
“Ya tuhan,,,,, ibu,,,, ” panik seorang remaja sambil mencengkrang kemudi mobil setelah berhasil meninjak rem dengan tergesa.

          “Ssst..” desis Mawar terkurap dijalanan aspal yang dinggin
“Kau tak apa-apa” panik seorang remaja langsung keluar dari mobilnya dengan pakaian sekolah lengkap dan langsung berusaha membantu sang korban.

“Aku tidak apa-apa” ucap Mawar berusaha berdiri sendiri menolak bantuan “Bolehkah aku ikut dengan mu meninggalkan tempat ini secepatnya?” lanjut Mawar setelah berhasil menyeimbangkan dirinya dan melihat mobil yang baru saja menabraknya dengan nada datar.

“Ba.. iklah k.. au bisa ikut dengan ku, aku akan mengantarkanmu” Sang remaja bingung dan merasa bersalah sambil membukakan pintu penumpang, yang langsung di ikuti Mawar untuk segera meninggalkan tempat kejadian tersebut.



Sementara itu ditempat lain

“Sialan!!!!!!!!! bagaimana kalian bisa kehilangannya” ucap pria berjas khas sang boss preman itu sedang berteriak diantara sekumpulan gangster yang merupakan anak buahnya sendiri.

“Ma…af boss dia bilang ingin muntah, ka…mi lihat wajahnya yang sang..at pucat jadi ka…mi membiarkan ia mengeluarkannya dahulu” kata pria berkepala botak.

“Ya ka…mi tak ingin kena cairan menjijikannya boss” sambung pria disebelahnya tak kalah gugup dari pria berkepala botak.

“Bodoh!!!!! Tolol!!!! brengsek!!!!! otak kalian!!!! ada dimana!!!!!! lebih baik!!!!! Kalian!!! Terkena!!!!! Cairan itu!!!!! dari pada!!!! Kalian!!! Kehilangan!!!! nyawa kalian!!!!!” sambil melayangkan pukulan dan tendangan pada anak buahnya yang tak akan pernah bisa percayai lagi.

“Apa yang harus ku katakan pada boss besar jika kita kehilangan putri dari Didi tersebut” setelah ia lelah melayangkan pukulan-pukulan pada anak buahnya.



Sedangkan didalam Mobil

Akhirnya Mawar bisa bernafas lega dan mulai menyamankan posisi duduknya, Namun kini ia mulai merasakan sakit dibeberapa titik pada bagian tubuhnya.

          “Kau baik-baik saja, kau tiba-tiba saja muncul sehingga aku menabrakmu” gugup pemuda yang bernama Yuda memulai percakapan menjelaskan keadaannya.

          “Iya aku baik” balas Mawar tak ingin menyatakan kondisi sebaliknya.
        “Benarkah apa perlu ku bawa ke rumah sakit? Setidaknya apotek” ucap yuda dan hanya dibalas gelengan kepala.


“Kau tak akan mengadukanku kan? bisa mati aku jika semua orang tau aku berani mengemudi sendiri, apalagi menabrak seseorang, bahkan pun aku belum mempunyai sim” ucap Yuda panjang lebar sedikit memohon di awal perkatanya setelah tiba di tempat yang tadi telah ditunjukan Mawar.

        “Tak masalah, terimakasih” jawab Mawar datar sambil keluar dari mobil dan berlari menjauhi Yuda yang membuatnya keheranan, bahkan ia tak tau harus melakukan apapun sekarang.

Disisi lain kini Mawar telah sampai pada bangunan gedung tua dan ia pun berjalan langsung menuju ruangan yang biasa ia pakai bekerja dengan sang ayah.

“Ayah sebenarnya apa yang ayah perbuat hingga orang-orang itu mengejar kita!”
          “Kau tau kan pekerjaan kita resiko nya seperti apa?” jawab Didi tenang
      “Bisakah kita hanya menjual bunga ini, kurasa keuntungannya cukup untuk menghidupi kita berdua” Mawar mencoba membujuk sang ayah untuk kesekian kalinya
     “Kau tau klo menghasilkan uang bukanlah tujuan dari hidup kita?” jelas Didi mengiatkan kembali.

          “Aku tahu” Mawar ingat betul perkataan sang ayah bahwa karena laki-laki ini ia harus kehilangan sang kakak yang tak diingatnya dan mereka menjadi buronan atas pembunuhan suatu keluarga hingga ia harus melewati latihan-latihan keras yang dijalaninya selama ini.

Sedangkan dalam sudut pandang Didi, ia sangatlah ingat apa yang telah diperbuat orang-orang itu kepadanya.

Yah kejadiannya sepuluh tahun yang lalu ketika ia berhasil pergi membawa anak Bram dan Delia dari Villa mengunakan mobil yang berbeda dari temannya yang pergi terlebih dahulu. ketika sedang mengemudi dengan nyamannya sambil memikirkan bagaimana nasib sang buah hati yang akan menjalani operasi dan juga putri kecil disampingnya.

“Bruk” suara benturan kencang mobil yang dikendarainya, ia pun langsung  melihat kearah belakang, disana terdapat sebuah truk yang terus melaju tak menurunkan kecepatannya.

Didi yang kaget langsung saja berusaha menambah kecepatan mobilnya untuk menghindari truk tersebut, Akan tetapi sepertinya truk tersebut benar-benar sengaja ingin membuat mereka terbunuh.

“Shiit,, apa sih yang mereka inginkan” ucap Didi
“Ihiks… ihiks….. pa…man…. Aku ta…kut… ay…ah…. Ibu…. Rose.. ing…in pul…ang sa..ja” rengek Rose benar-benar ketakutan.

“Ssst.. paman mengerti.. pegangan yang erat na” ucap Didi yang masih saja berusaha menjauhi truk terus membabi buta di belakang sana.

Bruk… pada hantaman yang ketiga mobil truk itu berhasil membuat mobil yang dikendarai oleh Didi dan Rose melewati jalan dan kini terjatuh menuju jurang yang dalam. Truk yang berhasil menyelesaikan misinya tersebut kini akhirnya pergi menjauh.

Setelah beberapa saat atau mungkin hampir bisa dikatakan beberapa jam karena kini langit telah berubah menjadi gelap gulita, jauh di bawah jurang sana sepertinya keberuntungan masih berpihak pada Didi dan Rose. Mereka berdua masih bernafas, meskipun sepertinya Rose memiliki luka serius dikepalanya karena ada darah keluar cukup banyak diarea tersebut sedangkan Didi sepertinya mengalami patah pada lengan kirinya karena Didi membuat mereka keluar dengan meloncat sebelum mobil itu akan meledak.

Didi sedikit lega dengan apa yang menimpanya karena ia masih berkesempatan hidup meskipun dengan luka yang dimilikinya. ia tak habis fikir siapa yang berani berbuat sekejam itu, sebelum ia ingat bahwa hanya satu orang yang pasti bisa melakukan ini semua.

Didi yang membawa Rose dibahunya kini sedang berusaha keras berjalan menuju sebuah kediaman seseorang yang bisa membantu menolongnya dan juga sang bocah yang sudah tak sadarkan diri.

Setelah melewati jalan yang terjal juga menyebrangi sebuah sungai yang untungnya tidak terlalu deras, akhirnya ia berhasil sampai dikediaman dr Yono, beliau adalah mantan seorang dr ternama, terbaik, akan tetapi kini ia harus berada di tempat terpencil ini karena ia kesalahannya.

Tok… tok bunyi suara pintu dari rumah yang ditempati dr Yono
“Didi kau kah itu?” dr Yono terkejut sana melihat Didi
“Tolonglah kami” ucap Didi putus asa
“Masuklah cepat” dr Yono langsung mengambil alih bocah dari gendongannya
Dr Yono langsung saja membawa bocah itu pada ranjang miliknya, kemudian ia menggeluarkan peralatan medis yang tersedia lengkap dikediamannya tersebut. Dengan telaten dr Yono merawat bocah itu hingga kepalanya kini dibalut dengan perban setelah melewati operasi dadakan mengingat cukup dalam luka dikepalanya.

“Kemarilah, giliranmu” ucap dr Yono pada Didi yang langsung dituruti Didi
“Terimakasih, aku behutang banyak padamu” ucap Didi ketika dr Yono juga menjahit lengannya.

“Tak masalah bukannya aku yang berhutang padamu?” ucap dr Yono ketika mulai menjahit.

“Mau kah kau membantuku sekali lagi?” ucap Didi yang masih saja khawatir
“Apapun yang kau butuhkan selama aku sanggup, kau tau sendirikan bagaimana kondisiku” ucap dr Yono.

“Aku tahu, bisakah kau menghubungi pihak rumah sakit untuk mengetahui keadaan Melati, aku benar-benar khawatir menginggat bagaimana mereka memperlakukan aku seperti ini” ucap Didi yang langsung disanggupi dr Yono.

Setelah dr Yono selesai mengobati Didi, ia langsung bergegas menghubungi rumah sakit yang telah ku beritahu bahwa Melati berada disana. Hatiku benar-benar was-was memperhatikan raut wajah dr Yono yang menjadi begitu kelam ketika mendengar jawaban keadaan anakku.

“Apakah Melati menjalani operasi dengan berhasil? Apakah donor jantungnya cocok?   Apakah ia sudah sadar? Apakah ia menanyakanku? Apakah mereka menculik Melati? Apakah mereka mengingkari janji mereka mencarikan donor jantung? Atau Apakah mereka membunuhnya juga” semua pertanyaan itu terus berputar dikepalaku dengan cepat.

“Terimakasih banyak atas informasinya” dr Yono mengakhiri percakapannya yang tak terlalu Didi perhatikan karena ketakutannya.

“Bagaimana keadaannya?” ucap Didi dengan jantung yang berdebar kencang
“Kau harus tetap melanjutkan hidupmu yang baru sobat” ucap lirih dr Yono
“Apa maksud ucapanmu itu? Operasi Melati berhasilkan?” ucap Didi sedikit optimis berusaha membuang jauh fikirannya tadi.

“Mereka telah langsung mengirimnya kerumah duka, karena pihak rumah sakit menerima kabar kematian mu di seluruh media berita” ucap dr Yono lirih
Ucapannya langsung saja membuat seluruh duniaku hancur berkeping-keping. Tak menyangka mereka benar-benar tega melakukan itu padaku meskipun aku sudah mengabdikan diriku pada mereka.

          “Kau sudah dapat apa kita butuhkan” ucap Didi kini serius kembali setelah ia tadi tenggelam dalam masa lalunya dan mengingat kembali apa alasan ia melakukan semuanya ini.

          “Ya, ini foto dan video bukti perselingkuhan mereka, dan yang ini berkas-berkas penyelundupan dana negara yang disamarkan menjadi dana amal yang sebenarnya itu untuk memenuhi kebutuhan selingkuhannya” ucap Mawar panjang lebar sambil memberikan foto, video dan berkas-berkas kepada Didi.

          “Bagus” ucap Didi sambil memeriksa bukti-bukti yang di berikan Mawar
       “Baiklah seperti nya ini lebih dari cukup untuk memulai permainan ini” jelas Didi setelah mengecek apa yang dibawakan Mawar, dan ia pun kini tersenyum dengan licik mengingat kembali rencana-rencana balas dendam yang telah direncanakannya selama sepuluh tahun ini.










Segitu dulu untuk WHITE ROSE Episode 3 ya beb, oya temenku nggak punya basic menulis cerpen maupun novelet, dalam tulisan ini pastinya terdapat beberapa kekurangan. Kalo ada yang mau di koreksi, saran dan kritiknya sangat diharapkan looh hihihi.

Kalo ada info webinar menulis juga boleh banget info di kolom komentar beb, biar nanti aku sampaikan ke temenku hihi.



You Might Also Like : 



Thank You for Reading and See You on My Next Post, XOXO πŸ

kembanggularoom by demia kamil






24 comments:

  1. Sangat diharapkan saran dan kritiknya looh, kalo ada EYD yang salah boleh banget infoin yang benernya seperti apa biar Bestie aku bisa baca langsung.

    Terima kasih udah meluangkan waktu untuk membaca Novelet ini

    Xoxo,
    I Yellow You πŸ’›

    ReplyDelete
  2. aku gak bisa kritik cerpen bisanya baca aja Demia. Penasaran sama nasib Mawar selanjutnya malah ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi tungguin hari sabtu selanjutanya yaa episode selanjutnya hehehe

      Delete
  3. Langsung baca episode 1 dan episode 2 dulu sebelum baca episode 3 ini, biar gak bingung haha. Ceritanya cukup menarik, bikin penasaran kelanjutannya.
    Sekedar saran, untuk awal kalimat bisa diawali dengan huruf besar.
    Oya kok di bagian tengah (kalimat: setelah dr Yono selesai… ), ada perubahan POV orang ketiga menjadi POV orang pertama, kemudian berubah lagi POV orang ketiga *IMHO, maaf kalau salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waa terima kasih infonyaaa, nanti aku sampein ke temenku dan coba aku pelajari juga hihihi

      Delete
  4. Ya ampun..cerita white rose ini udah sampai episode 3 aja yaa. Sama nih sama mbak Lidya, saya gak bisa kritik cerita gini euy. Saya baca dan nikmati aja~

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi waa terima kasih, semoga bisa ternikmati ehehhe

      Delete
  5. Rose dan mawar orang yang sama bukan ya? Rupanya ada motif balas dendam ya semoga gak ada yang dimanfaatkan dengan balas dendam si didi ini

    ReplyDelete
  6. Tetap semangat buat temannya ya. Memang ada beberapa kesalahan penulisan. Semoga ke depannya lebih bagus lagi PUEBI-nya. Jalan cerita sudah mengalir lancar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin, semoga kedepanya bis alebih baik lagi ehhehe

      Delete
  7. Tetap semangat buat temannya ya. Memang ada beberapa kesalahan penulisan. Semoga ke depannya lebih bagus lagi PUEBI-nya. Jalan cerita sudah mengalir lancar.

    ReplyDelete
  8. Demia, titip pertanyaan untuk penulis ya. Di episode 2 disebutkan, kejadiannya 25 tahun yang lalu.
    Trus pas episode 3 ini tiba2 kok 10 tahun kemudian. Klo 25 th yg lalu usia Mawar sudah 4 tahun, berarti saat ini umur 29 dong. 10 tahun kemudian jadi 39. Kenapa di cerita disebut remaja ya? Nah logika waktu ini harus masuk akal juga ketika dibaca.

    Ide ceritanya tapi seru ini. Ditunggu part berikutnya ya. Tetap semangat menulis ya untuk Astrianti Nuraidan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaa terima kasih infonya, nanti aku sampaikan ke temenku hehehhe

      Delete
  9. Seruuu nihbacanya ceritanya Demiaaa.. jadi sebeeel sama kendaraan yang nabrak! Swmangaat untuk cerita berikutnya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihih terima kasih, sabtu ini episode 4 nya keluar hehehe

      Delete
  10. Cerita yang menarik Kak Demi, semangat menulis terus buat temannya.
    Salah menulis tak apa, terus memperbaiki PUEBI-nya dengan sering membaca insyAllah akan dimudahkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih hihhihi, semoga kedepanya bisa lebih baik dan teliti hehehe

      Delete
  11. Lagi lagi aku ga suka dengan bahasa perselingkuhan :(

    ReplyDelete
  12. Aku sepertinya harus ulang ke episode 1
    Karena saya belum lihat atau mungkin sudah tapi lupa
    Seru dan bikin penasaran

    ReplyDelete
  13. gada kritikan, cuma seneng aja bacanya. ga punya basic menulis tapi lancar ya nulisnya. penasaran sama lanjutannya.

    ReplyDelete
  14. Berburu episode 1 dan 2 dulu baru lanjut ke episode 3. Jalan ceritanya oke banget, Mbak, cuma deskripsi suasana bisa ditambah lebih banyak lagi supaya pembaca bisa membayangkan situasi yang dihadapi tokoh-tokoh. Terus menulis ya.

    ReplyDelete

Comment with active link will be automatically removed to make this blog spam-free

Thank You for Comment πŸ’›