WHITE ROSE Episode 12

 WHITE ROSE Episode 11


Good morning, nggak kerasa udah hari Sabtu nih beb, itu artinya WHITE ROSE Episode 12 udah siap tayaaaang hihihi. 

Maaf nih lanjutanya lumayan lama, soalnya bestie ku lagi ada beberapa kesibukan yang nggak bisa ditinggalin hehehe.

Buat kamu yang baru pertama kali mampir ke Blog aku ini, cuss dibaca dulu Episode sebelumnya yaa, udah ada episode 1 sampe 11-nya beeeb.

Buat kamu yang belum tau, ini Novelet bukan buatan aku yaa, tapi buatan bestieku hehe. cuss langsung aja yuk?


WHITE ROSE by Astrianti Nuraidan


“Mawar” ucap Yuda yang kaget melihat sosok yang ada di depannya.

          Seseorang yang sebelumnya sangat ditunggu-tunggu oleh Yuda, kini berada didepan matanya.  Yuda begitu gelisah sepanjang hari karena tak mendapatkan kabar dari seseorang yang kini malah bertemu ditempat ini dan dengan sebuah alasan yang sangat membuatnya merasakan perasaan yang tak menentu. seharusnya Yuda merasa senang karena menemukan anak dari pembunuh bundanya tapi bukan berarti Mawarlah yang diharapkan berada didepannya.

          “Jangan bilang dia, Mawar yang selalu kau bicarakan selama ini?” Ucap Farhan yang juga mengerti arah pemikiran Yuda, walaupun tak mendengar pikiran Yuda dengan lantang tapi dengan gerak-geriknya itu sudah sangat menjelaskan.

          “Hai.” Ucap sosok yang tengah duduk itu mengerakkan kepalana ketika mendengar namanya dipanggil.

          “Setelah seharian diam akhirnya kini kau menyapa temanku, tadinyaku kira kau bisu sekaligus tuli.” Ucap Farhan dengan nada yang mencemooh karena sudah sangat kesal pada sosok didepannya kini.

          “Apa yang kau lakukan disini? Jangan bilang kau adalah anak dari Didi.” ucap Yuda mencoba bertanya dengan suara yang serak mencoba mengelak dari kenyataan yang harus dihadapinya.

          “…" Mawar tak membantah ataupun mengiyakan pertanyaan Yuda, yang dilakukannya kini hanya terdiam seperti sebelum ucapan singkatnya tadi. Akan tetapi kini pandangannya lurus kedepan berbeda dengan beberapa saat yang lalu sebelum kedatangan Yuda.

          “Yud, kau mengenalnya?” Tanya Farhan.

Wanita yang kini Farhan ketahui bernama Mawar karena sepertinya Yuda tadi memanggilnya dan langsung direspon oleh wanita didepannya. Hal itu membuat Farhan bertanya-tanya akan kedekataan hubungan keduanya. Tapi saat ini Farhan mencoba untuk tak terlalu memaksakan pertanyaannya karena tadipun tak ada jawaban dari Yuda yang kini malah mematung menunjukan betapa terkejut dirinya.

          Farhan pun memutuskan untuk menarik Yuda dari ruangan karena tak ada perkembangan yang berarti antara keduanya yang malah sepertinya berlomba siapa yang bisa memecahkan rekor siapa yang paling lama tidak bersuara. Yuda langsung dibawa keruang kerja yang disana kini ada Puji yang sepertinya baru saja selesai membersihkan dirinya sendiri sehabis pengincaran mereka selama seminggu ini untuk memata-matai pergerakan Didi.

“Ini minumlah.” ucap Farhan memberikan air minum kemasan yang tersedia didalam kantor setelah tadi ia berhasil mendudukan Yuda disebuah kursi terdekat yang diikuti Yuda dengan tatapan kosongnya.

          “Kalian bahkan belum satu jam berada disana? Apakah ia melakukan kekerasan? beruntung saja aku sudah menutupi cctv sebelum kalian masuk” ucap Puji menyimpulkan kondisi Yuda yang ditarik paksa oleh Farhan.

          “Tak ada kekerasan yang terjadi.” Balas Farhan tapi masih dengan pandangan yang masih tertuju pada Yuda.

          “Lalu apa yang terjadi?” ucap Puji menjadi bingung.

          “Dia mengenalnya.” Ucap Farhan dengan pandangan masih menatap Yuda.

          “Astaga.” Ucap Puji yang sontak mengikuti Farhan memandang Yuda.

          “Yud, kami tahu ini sulit untukmu tapi untuk kelancaran kasus ini kami harap kau bisa bekerja sama.” Ucap Farhan tegas pada laki-laki didepannya yang masih saja terdiam dengan pandangan yang tidak fokus.

          “Permisi maaf menggangu, tapi ini penting diruang sebelah ada seseorang yang mengaku bahwa ia adalah kenalan dari seorang tahanan yang baru saja tertangkap tadi malam.”ucap salah satu rekan polisi yang juga berkerja disana.

          “Benarkah? terimakasih aku akan kesana, Han sebaiknya kita beri Yuda sedikit waktu untuk menata kembali fikirannya, sekarang lebih baik kita lihat siapa kenalannya itu.” Ucap Puji dan langsung disetujui oleh Farhan.

          Mereka berdua langsung pergi menemui seseorang yang dikatakan oleh rekan mereka meninggalkan Yuda seorang diri yang begitu tenggelam dengan pikirannya sendiri.

 

 

 

          “Selamat siang” ucap Farhan ketika memasuki ruangan yang terdapat seseorang yang mengaku sebagai kenalan dari Mawar yang diketahuinya dari percakapan singkat dengan Yuda.

          “Siang pak, saya Rena teman dari Mawar, saya datang kemari setelah ada telepon bahwa ia berada disini, Mawar tak bersalah sepertinya ia ancam oleh mantan ayahnya karena selama ini Mawar selalu bersama dengan saya selama kurang lebih sepuluh tahun ini dan saja bisa menjamin dengan nyawa saya kalau perlu, dan jamin bahwa apa yang saya katakan itu benar.” Ucap Rena langsung menjelaskan panjang lebar ketika Farhan dan Puji memasuki ruangan itu.

          “Bisakah anda duduk dulu.” Ucap Puji singkat.

          Dan langsung diangguki oleh Rena dan mereka pun duduk secara berhadapan Farhan disamping Puji duduk tenang dengan wajah yang ramah tersenyum singkat kepada Rena, sedangkan Puji langsung duduk menghadap Rena dengan tatapan menintimidasi sambil memikirkan kemungkinan sosok didepannya kemungkinan besar adalah komplotannya.

          “Bisakah aku memeriksa datamu secara lengkap.” Ucap Farhan.

Rena langsung memberikan KTPnya pada Farhan yang selalu tersimpan apik didalam sebuah dompet yang selalu menemaninya setiap saat. Yang langsung diberikan kepada puji untuk mengetahui keaslian dan juga untuk menemukan data-data kejahatan yang mungkin telah dilakukan yang mereka curigai karena Rena mengaku kenalan anak dari seorang pembunuh yang paling dicari saat ini dan semakin curiga karena Rena memberikan KTPnya dengan sangat gugup.

          “Apa yang membuatmu yakin bahwa tersangka tidak bersalah?” Tanya Puji setelah tak diragukan lagi keaslian KTP Rena dan juga tak ada data kejahatan yang berhubungan dengan identitas Rena.

          “Mawar tak bersalah.” Ucap Rena dengan yakin.

          “Apa yang membuatmu seyakin itu?” ucap Farhan yang kini malah tersenyum seperti meremehkan keyakinan Rena.

          “Mawar adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki, walaupun hubungan kami tidak sedarah karena kami baru saja bertemu sekitar sepuluh tahun yang lalu, tapi hal itu tak mengurangi hubungan kami dalam hal kekeluargaan. Aku sangat mengetahui dengan yakin bahwa laki-laki yang dulunya diakui sebagai ayahnya itu bukan ayah kandungnya dan mereka sudah tak pernah berhubungan lagi sejak sepuluh tahun.” Ucap Rena panjang lebar tanpa jeda memberikan keterangan yang menurutnya hal yang sebenarnya.

          “Lalu apakah kau mengatakan bahwa kami salah menangkap orang?” ucap Puji begitu mengintimidasi.

          “Bukan maksudku begitu, aku hanya ingin mengatakan bahwa mungkin saja Mawar telah diancam oleh matan ayahnya itu.” Ucap Rena pelan ketakutan mendengar jawaban Puji tapi tak melunturkan pembelaannya terhadap Mawar.

          “Dari mana kamu seyakin itu dia telah diancam?” Ucap Farhan.

          “Karena akhir-akhir ini ayahnya, maksudku orang itu, dia sepertinya mengetahui kapan dan dimana Mawar berada, lalu orang itu akan muncul, mengikutinya bahkan berusaha berbicara walau tak terlalu dihiraukannya, aku mengetahuinya karena kami selalu bersama hampir sepanjang waktu.” Ucap Rena.

Rena yang menjawab pertanyaan Puji dengan sedikit terbata-bata dengan pandangan yang tertuju kepada kedua tangannya terlihat dieratkan yang berada diatas meja memperlihatkan dengan jelas bahwa ia sangat gugup membuat Puji maupun Farhan harus mendengarnya dengan lebih seksama.

          “Yang dikatakannya itu benar.” Ucap Yuda yang tak diketahui sejak kapan sudah berada dibelakang Puji dan Farhan.

          “Apa katamu?” ucap Puji tak mengerti apapun.

          “Aku juga hampir selalu bersamanya.” Ucap Yuda pelan.

          “Yuda.. Kau bekerja disini, syukurlah.” Ucap Rena yang kaget sekaligus merasa  lega karena kini ada seseorang yang bisa membantunya untuk mengeluarkan Mawar dari tempat ini.

          “Kau yakin?” ucap Farhan yang meragukan ucapan sahabatnya.

          “Mana mungkin aku main-main dalam kasus kematian Bunda.” Ucap Yuda dengan tegas.

          “Aku tahu itu, tapi bukti yang kami miliki juga...” Ucap Farhan memulai apa yang selama ini dikerjakannya bersama rekan-rekan yang lainnya dalam kasus menemukan Didi.

          “Kami akan menghubungimu kembali setelah kami selesai dengan mengintrogasi Mawar, apakah ia bersalah ataupun ia hanya dimanfaatkan oleh Didi.”Ucap Puji pada Rena dan otomatis memotong perdebatan antara Farhan dan Yuda.

Puji merasa bukan hal yang baik berdiskusi didepan orang asing apalagi orang itu mengakui tersangka adalah keluarganya, ia belum dapat menyimpulkan bahwa ucapan Rena dan Yuda yang benar ataupun penyelikan mereka selama ini.

          “Aku mengerti.” Ucap Rena yang kaget dengan kata-kata Puji tapi dengan adanya Yuda disini, hal itu membuatnya menaruh harapan yang tinggi bahwa Mawar akan secepatnya bersamanya kembali.

          Setelah mengantarkan Rena keluar dari kantor kepolisian, Yudapun langsung bergegas kembali keruangan tempatnya bekerja yang sudah ditunggu oleh Farhan dan Puji untuk menjelaskan apa saja yang diketahui olehnya dan juga mengolah informasi-informasi yang mereka ketahui sebelum dan sesudah Rena datang kemari untuk memutuskan sebuah keputusan yang tepat.

         

 

 

 

 

 

          “Mengapa kau membebaskan aku?” Ucap Mawar.

          Saat ini Yuda sedang melepaskan borgol yang berada dikedua tangan Mawar yang tak pernah lepas selama hampir dua puluh empat jam. 

          “Kau adalah kau, seharusnya yang bertanggung jawab disini adalah laki-laki itu bukan kau, kami menangkap orang yang salah.” Ucap Yuda dengan yakin.

          “Tapi..” ucap Mawar.

          “Aku tau kau merasa sangat bersalah disini, tapi aku mohon kepadamu kau tak perlu membela laki-laki itu.” Ucap Yuda menggengam tangan Mawar sekaligus  memotong apapun yang akan Mawar katakan sebelumnya.

          “Yud..” ucap Mawar.

          “Aku benar-benar memohon kepadamu, aku tak ingin membahasnya saat ini.” Ucap Yuda dengan rawut wajah yang menunjukkan kerapuhan.

          “Aku...” Ucap Mawar.

          “Kumohon, buat aku tak penah menyesali keputusanku ini.” Ucap Yuda semakin mengeratkan genggamannya.

          “Terimakasih.” Ucap Mawar menyerah pada keadaan, melihat Yuda yang sepertinya saat ini tak mungkin mendengarkan pendapatnya.

 

 

          Sudah seminggu ini Mawar bebas bersyarat dalam kasus penyembunyian Didi, seorang buruan nomor satu yang sedang dicari saat ini. Hampir seminggu ini Mawar selalu diikuti baik diam-diam ataupun secara terang-terangan bergantian secara berkala oleh anggota kepolisian yang ikut andil dalam penangganan kasus Didi.

          Tapi hampir seminggu penuh pun tak ada pergerakan ataupun komunikasi baik itu secara langsung maupun secara diam-diam antara Didi dan Mawar. Hal itu semakin membuat Farhan frustasi berbeda dengan Yuda yang sangat lega telah mengambil keputusan yang tepat, mereka mengetahui dengan jelas karena mereka telah menyadap rumah, tempat kerja bahkan telepon pribadi Mawar tanpa sepengetahuan Mawar tentunya.

          Saat ini Yuda berada didalam kantor miliknya sambil kembali meningat-ingat perdebatan panjang yang terjadi antar dirinya dan kedua temannya.

          “Apa yang baru saja kau katakan tadi” ucap Puji.

          “Dia tak bersalah.” Yuda kembali menggulangi ucapannya.

          “Walaupun ia tak membunuh keluargamu secara langsung, tapi dengan ia menyembunyikan keberadaan seorang pembunuh maka sama halnya dia pun telah membunuh secara tidak langsung.” Ucap Farhan penuh dengan emosi.

          “Aku tau lebih baik darimu.” Ucap Yuda yang sebenarnya setuju dengan pemikiran Farhan sampai beberapa saat sebelum bertemu dengan Mawar tadi.

          “Lalu apa yang menjadi landasan ucapanmu sebelumnya.” Ucap Puji dengan nada yang tenang berbeda dengan Farhan yang sepertinya akan kembali mengeluarkan emosinya akan tetapi tertahan dengan ucapan Puji.

          “Hanya mengikuti hati kecilku saja.” Ucap Yuda yang entah mengapa sedikit ragu dengan apa yang dikatakannya.

          “Cinta sungguh membutakan fikirannya.” Ucap Farhan tertawa seperti kehilangan akal sehatnya dan menjatuhkan dirinya yang untung saja terdapat sebuah kursi.

          “Tapi ucapan Yuda ada betulnya juga kita tak bisa menahannya lebih lama lagi.” Ucap Puji.

          “Kau menyetujui ide gilanya itu?” ucap Farhan yang kini mulai tak percaya pada teman seperjuangannya dalam menanggani kasus ini. Seharusnya Puji lebih setuju dengan pemikirannya daripada ide konyol Yuda yang hanya didasari karena cinta.

          “Penangkapan Mawar hanya karena tempat yang sebelumnya ditempati oleh Didi terakhir kali mengatas namakan dirinya.” Ucap Puji menjelaskan dengan tenang.

          “Benarkah?” Ucap Yuda yang kini mulai mempercayai kehendak hatinya.

          “Kalau yang dikatakan wanita tadi adalah benar, maka Mawar sepertinya hanya dimanfaatkan atas dasar balas budi atau pemerasaan.” Ucap Puji menerangkan kepada Farhan yang kini semakin memerah karena ketidak setujuannya atas pemikiran Puji.

          “Kau bisa mempercayai Rena dan aku.” Ucap Yuda yang kini semangat.

          “Terserah kalian saja, kalau menurut kalian itu benar dengan membebaskannya tapi kalian tidak berhak menghentikanku dari pemantauan selama dua puluh empat jam penuh.” Ucap Farhan mencoba bernegosiasi dengan kedua temannya.

          “Aku tak keberatan.” Ucap Yuda yang semakin bersemangat.

          “Terserahmu, tapi aku tak ingin ambil bagian dalam mengintaianmu kali ini, ada beberapa hal yang sangat menggangguku.” Ucap Puji sambil pergi keluar setelah mengambil kunci mobilnya yang berada dimeja samping tempat Farhan yang kini semakin merosot ditempat duduknya.

          “Terimakasih.” Ucap Yuda pada kedua temannya karena telah mendengarkan dan rela berjuang menggantikannya dalam memecahkan kasus yang terjadi dalam hidupnya.

“Dan bagaimana kau bisa sebaik ini hanya karena cinta bodoh itu.” Ucap Farhan yang kini hanya bisa menutup kedua matanya memikirkan kebodohan sahabatnya.

“Aku berjanji padamu kalau nanti pemikiranmu yang benar, maka aku sendirilah yang akan membuatnya mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Ucap Yuda meyakinkan Farhan.

“Aku mengerti.” Ucap Farhan singkat masih dengan kedua matanya yang terpejam untuk menurunkan emosinya.

 

 

          Mawar berlari secepat yang bisa dilakukannya untuk menghentikan kegilaan dari mantan ayahnya. Setelah beberapa saat yang lalu Mawar mendapat sebuah pesan singkat bahwa tanpa bantuannya pun Arman tetap akan mati malam ini dan juga sebuah pesan selamat tinggal.

Mawar berlari melewati gelapnya malam yang dingin tanpa sempat mengambil jaket atau apapun yang akan dikenakan dalam cuaca ini, karena bagaimana pun caranya Mawar bertekat untuk menggagalkan pembunuhan yang akan terjadi hari ini.

          “Ayah bisakah kau lupakan saja dendam itu?” ucap Mawar yang baru saja memasuki rungan bertepatan dengan laki-laki yang akan menyuntikan racun selang yang tersambung pada tubuh Arman.

          “Aku telah menantikan ini selama sepuluh tahun” ucap Didi yang pergerakannya terhenti karena kemunculan Mawar yang tiba-tiba.

          “Lalu setelah itu apa, tak akan ada yang berubah ketika ia mati, alasan kita sangat membencinya pun semua akan lenyap. Yang dunia tahu hanyalah kita adalah seorang pembunuh.” Ucap Mawar mencoba menjelaskan.

          “Bahkan seluruh duniapun tak akan peduli” ucap Didi yang masih bersikeras dengan keinginannya.

          “Lalu apa yang Melati katakan ketika kau bertemu dengannnya?” Tanya Mawar kembali mencoba membujuk.

          “Melati bahkan sudah mati karena pria ini.” Ucap Didi berteriak semakin histeris mendengar nama anaknya disebut-sebut.

          “Lalu kau berniat akan menemuinya dengan bangga kalau kau telah bunuh diri membawa dengan pembunuh putrimu? Apakah kau yakin Melati akan menyambutmu dengan senang?” ucap Mawar.

          Didi langsung terdiam membeku, bukan keinginannya bertemu dengan putri tercintanya dengan tangan penuh darah seperti ini. Apa yang diucapkan Mawar tak salah, Melati tak akan berlari memeluknya dengan keadaannya yang sekarang tapi bagaimana ia tau apa yang dipikirkan oleh Melati ketika kenyataannya laki-laki didepannya ini telah merenggut nyawa anak kesayangannya itu.

          “Angkat tangan” ucap salah seorang pria berbaju polisi dengan kedua pistol ditangannya yang baru saja menerobos kamar tempat Arman dirawat.

          “Kau membawa polisi bersamamu?” ucap Didi sambil pada Mawar sambil mengangkat kedua tangannya keatas.

          “Tidak, aku kemari sendirian.” Ucap Mawar yang juga mengangkat kedua tangannya.

          “Sudah kubilang kalau kekasihmu itu adalah penipu ulung.” Ucap Farhan yang baru saja masuk bersama Yuda dibelakangnya.

          “Kekasihmu?” tanya Didi pada Mawar yang dibalas gelengan kepala.

          “Dia bilang kau bukan kekasih temanmu itu.” Ucap Didi kepada kedua polisi yang baru saja tiba diruangan Arman.

          “Itu bukan masalah besar sekarang, sebaiknya kau menyerah secara baik-baik dan ikuti kami atau peluru akan langsung menembus tepat pada kepalamu.” Ucap Farhan dengan tegas.

          “Hei itu lelucon yang indah dipertemuan pertama kita.” Ucap Didi riang dengan tangan masih diatas.

          “Dan kau terimakasih telah bekerja sama selama seminggu ini berkatmu kami berhasil menemukannya.” Ucap Farhan pada Mawar.

          “Bolehkah aku bertanya padanya sebelum kalian menyeretnya kekantor polisi, disana aku tak dapat menemuinya lagi.” Ucap Yuda pada Farhan yang sebelumnya telah berjanji akan melepaskan dalam segala urusan yang berkaitan dengan sosok didepannya ini.

          “Lima menit tidak kurang tidak lebih.” Ucap Farhan yang mengerti dengan keadaan Yuda.

          “Aku hanya ingin mengetahui alasan kau membunuh keluargaku.” Ucap Yuda pada Didi.

          “Kau Yuda bocah kecil anak Arman?” ucap Didi begitu menyadari pertanyaan Yuda.

          “Ya itu benar, karenamu temanku menjadi sebatangkara didunia ini.” Ucap Farhan menyela Yuda.

          “Ah kalau begitu maafkan aku, hei mengapa kau tidak berpacaran saja dengannya kalau begitu.” Ucap Didi ringan pada Mawar yang masih berada disebelahnya.

          “Kau.” Ucap Mawar melotot pada Didi yang tak habis pikir dengan ucapan mengejutkan mantan ayahnya dalam menghadapi situasi seperti ini.

          “Ucapku tak salah kan, nasib kalian hampir sama mungkin saja kalian bisa saling memahami satu sama lain.” Ucap Didi.

          “Tutup mulutmu itu.” Ucap Mawar yang tak mengimbangi lelucon Didi.

          “Haruskah kubunuh kau agar harapanmu terwujud.” Ucap Farhan yang kini menodongkan pistolnya pada Didi.

          “Kau tak bisa melakukannya biarkan dia mempertanggung jawabkan semuanya nanti dipenggadilan.” Ucap Yuda pada temannya.

          “Kau begitu bijaksana untuk menjadi anak dari laki-laki brengsek ini, dan kau tak perlu membunuhku, dia bukan anakku mana ada seorang anak yang melaporkan ayahnya sendiri.” Ucap Didi berbicara sangat ringan sekaligus menyindir Mawar.

          “Sudahku bilang bukan aku yang mengundang mereka kemari, dan aku kemari karena hanya ingin menghentikan kegilaan ini.” Ucap Mawar datar.

          “Dengan kau mengirim tiket, uang, dan tanda pengenal yang baru tak bisa membuatku menghentikan semua ini.” Ucap Didi yang kini mulai kehilangan ketenangannya.

          “Aku..” ucap Mawar.

          “Kata-kata tadi hampir saja menyentuh hati tapi semua ini akan selesai kalau aku atau dia yang mati dalam kasus kami.” Ucap Didi yang sekarang nekat mendekati Arman yang terbaring dengan jarum suntik yang berada ditangannya.

          Jarum suntik itu hampir saja menembus tangan Arman berbarengan dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Suara itu berasal dari sebuah pistol yang berada ditangan Yuda sebelumnya diambil paksa dari tangan Farhan ketika Yuda sadar dengan gerak-gerik yang akan dilakukan Didi.

          “Yud, aku bisa saja memborgol lenganmu jika saja kau salah sasaran.” Ucap Farhan yang kaget berteriak pada Yuda yang berada disampingnya.

          Peluru itu mengenai tangan Didi yang memegang jarum suntik, yang langsung membuat Didi menjerit merasakan tangannya yang tertembus sebuah peluru. Hal itu membuatnya terjatuh merosot pada lantai dan hal itu dimanfaatkannya untuk mengambil jarum suntik yang tadi terjatuh.

          “Ayah.” Ucap Mawar panik berusaha mendekati tubuh Didi yang langsung dihentikan oleh todongan pistol langsung kearahnya oleh petugas kepolisian yang berada didekatnya.

          Tapi ada yang aneh dengan tubuh Didi yang baru saja tertembak ditangannya. Seharusnya keadaannya tidak seperti yang terjadi saat ini, dimana kini Didi malah terbaring dengan kedua mata yang melihat keatas dan mulut dipenuhi oleh busa yang menandakan bahwa tubuh itu sedang mengalami ajalnya.

          “Apa yang terjadi?” ucap Farhan yang langsung mendekati tubuh Didi.

          “Dia sudah mati.” Ucap salah satu anggota polisi yang tadi menodongkan pistol terhadap Mawar setelah memeriksa tubuh Didi.




Segitu dulu buat White Rose Episode 12 ya beeeb, mohon maaf kalo masih ada tanda baca atau EYD yang masih belum sesuai, kritik dan sarannya sangat membantu looh buat temenku ini.

Novelet White Rose up setiap hari Sabtu, tapi kalo ada telat-telat dikit harap maklum ya beb hihihi.



You Might Also Like : 




Thank You for Reading and See You on My Next Post, XOXO πŸ

kembanggularoom by demia kamil









18 comments:

  1. Thank you buat yg udah mampir yaaa

    ReplyDelete
  2. Sudah nungguin, akhirnya tayang juga episode 12 nya ini.
    Wah si Didi meninggal jadinya ya, apakah Arman nantinya bisa sembuh? Makin seru ceritanya. Aku tunggu episode selanjutnya :)

    ReplyDelete
  3. Ya ampun akhirnya lanjutannya nongon juga Demia, sibuk banget ya :)
    Yuda kaget banget ya lihat Mawar di tempat yang sama. Kenaoa tuh kok Didi mengeluarkan busa? OD gitu ya. Yuda belain Mawar banget nih samapi dibilang bodoh sama Fargan :-D

    ReplyDelete
  4. Wow... Panjang juga. Saya blm baca bagian sebelumnya. Cuss baca ke sana dulu biar makin nyambung nih ah jalan ceritanya

    ReplyDelete
  5. Banyak banget tokoh di dalamnya ya, agak pusing mengingat antara farhan dan Yuda. Ini cerita detektif gitu kah> menebak nebak mengapa Mawar menyembunyikan Didi. Complicated sekali ya ceritanya.

    ReplyDelete
  6. Waah, tragis banget yang menimpa Didi, apalagi mati dengan kondisi tertembak gitu, huhuuu, miriis.
    Btw udah panjang aja nih kisah ampe 12 yaa, jadi mau berapa episode niih, trus nanti gimana yaa endingnya.
    Lah kepooo..

    ReplyDelete
  7. Hai mba Demia, untuk membuat konsep cerita seperti ini butuh waktu berapa lama?

    ReplyDelete
  8. Makasih Kak penggalan noveletnya.. aku belum baca yang awal-awal sih.. tapi enggak mudah ya membuat cerita dengan setting kriminalitas gini. Kecuali emang ada pengalaman di dalamnya, hehe.
    Lanjutkan, Kak.. meski masih banyak typo dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat, tapi sambil jalan sambil belajar it's okay. Semangattt :)

    ReplyDelete
  9. Aku sepertinya terlewat beberapa eps yaa..
    Kok jadi melewatkan sosok Didi..?
    Endingnya menyayat hati banget...Mawar melewati masa demi masa yang penuh dengan kenangan kurang menyenangkan.

    ReplyDelete
  10. Ih keren deh bikin novelet alias cerbung begini. Aku gak bisa ih bikin cerita panjang begini. Aku paling bisa juga cerpen. Itu pun based pengalamanku sendiri. Ide fiksiku jelek banget. Pengen bisa deh ih nulis cerita fiksi begini.

    ReplyDelete
  11. ceritanya menarik mba...
    tanya setiap sabtu ya, oke ditunggu kelanjutannya. Semangat...!

    ReplyDelete
  12. Mbak, kalau aku pengen komen soal penulisan di depan di sana, di hatiku, ini kalau diikuti keterangan tempat harus dipisah. Sama kalimatnya jangan terlalu panjang-panjang, karena kami yang baca butuh bernapas juga biar nggak ngos-ngosan.

    Aku penasaran sama cerita mulai episode 1nya, ini mampir sini tahu-tahu sudah episode ke 12.

    ReplyDelete
  13. aaaaaah ini endingnya bikin penasaraaaan Demia hehehe.. aku paling suka baca novel seru

    ReplyDelete
  14. Tragis juga nih kisah didi jadi keracunan nih untuk ngikutin.

    ReplyDelete
  15. Jujur aku baru baca White Rose nih, etau-tau udah episode 12 aja hihi, banyak yang mesti aku catch up nih. Otw dari episode 1 ahh...
    Anw, 1 episode gini ngerjainnya berapa lama Ka Demia?

    ReplyDelete
  16. Seperyinya harus baca dari episode awal kali ya jadi lebih paham ceritanya. Oh ya btw mungkin di pertengahan bisa ditambahn gambar ilustrasi gitu kali ya kak jadi ga plek tulisan semua. Ehh tapi ini novelet sih ya

    ReplyDelete
  17. Membaca nama Farhan, aku jadi teringat tokoh di sinetron tv swasta yang hit saat ini, haha Mas Farhan... sukses menulis novelnya ya πŸ‘

    ReplyDelete
  18. Wah...udah episode 12 aja nih...Menarik ceritanya, tapi harus baca dari awal ya biar bisa nyambung sampai ke episode sekarang ini. Lebih seru lagi kalo ada ilustrasinya nih..biar makin greget.

    ReplyDelete

Comment with active link will be automatically removed to make this blog spam-free

Thank You for Comment πŸ’›